Perubahan Tidak Lahir dari Tangan Mahasiswa
// March 30th, 2010 // No Comments » // Rembesan isi kepalaku
Masih teringat jelas di memori kita tentang aksi patriotisme mahasiswa dalam usahanya membela kebenaran. Dimulai dari demonstrasi atas kasus dugaan penyelewengan bank century, dukungan hak angket DPR tercinta dalam kasus yang sama, hingga aksi sekelompok mahasiswa yang menamakan dirinya HMI dalam kasus penghancuran sekretariat HMI Makassar yang dibalas aksi penghancuran kantor polsekta Makassar barat. Yang terakhir ini mungkin saja sebuah aksi penggusuran lahan terselubung untuk dijadikan pusat perbelanjaan yang lagi ngetren di Negara ini.
Ya, mahasiswa adalah sosok klasik dari paham kontrol sosial yang begitu usang dimana tiap tetes darah yang mengalir di tubuhnya bermerek generasi pelanjut pembangunan. Generasi yang tak akan pernah ada habisnya karena ada ribuan tamatan SMA/SMU yang antri masuk perguruan tinggi tiap tahunnya. Anak dari ibu bapaknya yang kata kahlil Gibran mendambakan dunianya sendiri.. dunia yang adil, damai dan sejahtera sesuai amanat UUD 45.
Sampai disitu, dengan berbagai aksi yang tak henti-hentinya dan tak kenal lelah bin tak kenal takut dengan water canon, gas air mata, dan peluru karet (asal jangan peluru tajam soalnya komnas HAM bakalan turun tangan), apakah mahasiswa memang benar-benar agen perubahan sosial? Banyak diantara kawan-kawan mahasiswa setuju dengan jawaban ‘ya’ atau dalam bahasa trendinya ‘sok pasti gitu loch!’. tapi tunggu dulu, karena kata salah seorang ahli semiotika mengatakan jangan sampai ada kekuasaan simbolik disini. Kekuasaan yang melahirkan Kekerasan yang sebenarnya (kata bang roma) jauh lebih kejam dari pembunuhan. Perubahan sosial kini merupakan simbol yang diperebutkan oleh berbagai kalangan yang ternyata dimenangkan oleh mahasiswa. Sebuah simbol yang semestinya lebih dekat dengan kata asing yang satu ini, ‘rakyat’
Bagi mahasiswa, perubahan sosial bukan saja menjadi tuntutan profesinya tetapi berubah bentuk menjadi budaya. Budaya yang secara formal apalagi nonformal diajarkan secara simultan dan diwariskan turun temurun dibawah pohon rindang (yang sebentar lagi akan ditebang milik kampus yang kian modern. Tuntutan pewarisan nilai ini sangat penting mengingat berapa banyak siswa SMU yang telah memikirkan perubahan sosial (mendengar kata itupun tidak) selain memikirkan cewe/cowo mana lagi yang siap dipacari. Pewarisan budaya ini pun kian hari kian formal saja melalui rangkaian latihan kepemimpinan dengan berbagai tetek bengeknya.
Lebih serius lagi (mudah-mudahan), mahasiswa mengalami alienasi yang kronis. kata pierre Bourdieu (benarmikah ejaannya?) sekolah membuat insan terpisah dari kelompok asalinya. Melalui tembok-tembok yang pintu gerbangnya dijaga ketat satpam kampus, mahasiswa terpisah dari ortunya. Mereka yang belajar bertani di kampus terpisah dari ortunya yang petani, dan begitulah seterusnya hingga semua jurusan di kampus mengalami hal yang sama. Setelah keterpisahan yang diambil alih fungsinya oleh simbol ‘mahasiswa’ bertambah kronislah lagi keterpisahan tersebut dengan tambahan imbuhan ‘perubahan sosial’. Maka lahirlah sebuah kalimat pasif ‘perubahan sosial dilakukan oleh mahasiswa’.
Kembali ke kejadian sebelumnya, benarkah berbagai aksi century, HMI dan berbagai aksi demonstarsi lainya yang dilakukan oleh para mahasiswa sebagai usaha perubahan sosial? Seorang kawan baik di kampus merah mengatakan dengan tegas bahwa perubahan sosial tidak pernah lahir dari tangan-tangan manis mahasiswa. Perubahan sosial selalu lahir dari mereka yang mengalami keterjebakan sosial itu sendiri. Mereka-mereka yang kemudian piringnya pecah dan tak terisi sesuatu yang bisa dimakan karena kebijakan politik ekonomi yang tak berpihak. Siapa mereka?, mereka adalah ‘mas Prem’ lanjut teman lagi. Mas Prem adalah simbol bagi preman-preman kecil yang dianggap menyusahkan oleh Negara ini. Singkat kata ‘rakyat kecil’ itu sendiri. Lalu, kemanakah arah aksi mahasiswa tersebut?
Jujur-jujuran sajalah, bahwa selama ini aksi yang dilakukan dibawah bendera mahasiswa hanya berujung pada kisah yang berakhiran formal. Konsolidasi, rekonsiliasi, restrukturisasi dan berbagai bentuk lobi-lobi lainnya adalah hadiah yang indah bagi aksi yang berakhir ricuh. Bahkan aksi sebesar reformasi 97/98 adalah bukti nyata gagalnya perubahan sosial ditangan mahasiswa apalagi sekedar demo ecek-ecek seperti yang dilakukan mahasiswa belakangan ini.
Reformasi 97/98 yang berakhir dengan tumbangnya rezim orde baru mungkin bisa dikatakan sebuah perubahan sosial. Tapi, perubahan sosial seperti apa yang kemudian terjadi? Setahun setalah aksi pendudukan gedung MPR/DPR oleh mahasiswa Undang-undang pendidikan menganai penanganan system BHP kemudian lahir. Perjanjian pasar bebas kemudian ditanda tangani. System demokrasi gila kemudian lahir dengan menghadirkan 33 partai peserta pemilu yang dalam praktiknya cuman sekedar membuat pesta demokrasi yang gila-gilaan plus memakan habis uang rakyat. Apa begini perubahan sosial yang diinginkan? Perubahan yang tak sedikitpun membawa kemaslahatan bagi rakyat.
Berbagai demonstrasi yang dilakukan belakangan ini juga tidak kalah anehnya. Aksi yang mengatasnamakan rakyat selalu berakhir ricuh (mungkin memang disetting demikian). Hayooo…Pernah nga sich mahasiswa minta izin ke rakyat untuk dipakai namanya berdemonstrasi? Atau memang benar ini adalah sebuah kekuasaan simbolik yang dilakukan mahasiswa. Setiap ketimpangan yang berhubungan langsung pada parlemntariat atau yang sifatnya politis ramai-ramai untuk dikutuk dan perlu aksi turun kejalan hingga berakhir ricuh, namun kesengsaraan rakyat kecil yang tidak berhubungan langsung pada hal politis (hanya berhubungan dengan piring kosong petani misalnya) ditinggalkan didapur sekretariat elemen-elemen mahasiswa. Mau bukti lagi?
Berapa banyak elemen mahasiswa yang turun kejalan ketika terjadi demonstrasi besar? Aliansi inilah, front itulah, dan lain-lain yang mungkin tak terhitung jumlahnya. Masing masing elemen membawa berbagai atributnya sendiri-sendiri, Sebuah identitas parsial yang terpisah jauh dari induknya. Benarkah atribut tersebut yang bagi Saussure dianggap penanda bagi rakyat? Ataukah itu memang sebuah interpretasi konyol bagi mapannya sebuah kekuasaan simbolik?
Sudahlah… perubahan tidak akan pernah lahir ditangan mahasiswa.










